(2 votes)
|
  Add to favorites

Tambora: Mountainbiking to the Top - Nusa Tenggara Barat, Indonesia

by mblitar  
with a Garmin GPSMAP 60CSx
This trip was created using EveryTrail. Like what you see? Get the FREE iPhone App and share your trips.
Story:

Tambora, Kisah Pulang Sang Pengelana

Teks: Muslimin Damanhuri

Foto: Afghan Puteh & Muslimin Damanhuri

 

Pada tahun 1815, letusan dahsyat Gunung Tambora (2851mdpl) telah mengubah iklim dunia dan menurunkan suhu dunia hingga 30Celcius. Perubahan iklim ini diyakini telah memicu Revolusi Perancis dan bencana kelaparan terburuk di Eropa pada abad 19 akibat gagal panen.  Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa letusan itu pula lah yang telah melahirkan alat transportasi yang sekarang dikenal sebagai sepeda. Setelah 196 tahun kemudian, tepatnya pada 11 – 16 April 2012 Perkumpulan Sepeda Jelajah Nusantara (SJN) mengantarkan kembali sepeda-sepeda yang telah berkelana tersebut kembali ke pangkuan ibu kandungnya, Gunung Tambora.

 

            Trip petualangan sepeda ke Gunung Tambora dan Sumbawa ini merupakan SJN Seri Ke-11 dan dirancang selama dua tahun oleh Dwi Bahari dan tim SJN. Hasil kerja sama dengan Pemerintah Daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumbawa Barat, Komando TNI Angkatan Udara dan Korps Marinir NTB.  Persiapan lama ini karena kendala infrastruktur yang terbatas, daerah yang sulit dijangkau dan berisiko, serta jalur pendakian yang relatif baru untuk dilewati sepeda. Dengan tingkat kesulitan ini, jumlah peserta dibatasi hanya 40 peserta yang menguasai teknik MTB tingkat menengah dan lanjutan. Meskipun begitu, kuota ini langsung terisi penuh kurang dua minggu. Peserta berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Batam, Jabodetabek, Bandung, Kalimantan, dan Polandia. Tahun 2007 SJN Seri Ke-7 pernah menjelajah lereng gunung Tambora dan Rinjani. Tapi, untuk Seri ke-11 ini, tujuannya adalah puncak Tambora.


Gunung Tambora dan Sejarah Asal Mula Sepeda

Sebuah tulisan Mick Hamer berjudul Brimstone and Bicycles di majalah New Scientist, 29 Januari 2005 (http://www.newscientist.com/article/mg18524841.900) mengungkapkan keterkaitan yang mengejutkan antara Gunung Tambora dan sejarah awal sepeda.

Mick menuliskan bahwa pada 5 April 1815, Gunung Tambora di Indonesia mulai bergejolak. Sepekan kemudian memuntahkan isi perutnya dengan letusan spektakuler hingga bulan Juli 1815. Ini adalah erupsi terbesar yang dicatat sejarah, menewaskan hingga 92.000 orang dan menyemburkan begitu banyak abu di atmosfer yang menyebabkan suhu rata-rata dunia turun 3 derajat celcius. Selandia Baru terkena badai salju di bulan Juli 1816 dan panen gagal total. Di Eropa, tahun 1816 disebut sebagai tahun tanpa musim panas. Di beberapa tempat memicu hujan salju, langit terus-menerus gelap, panen gagal, dan Eropa memasuki tahun-tahun terburuk dalam sejarah.

Karena panen gagal, kuda-kuda banyak yang disembelih, bukan hanya karena manusia pada waktu itu sudah kehabisan cadangan makanan, tetapi juga karena mereka kesulitan mencari makanan untuk kuda-kuda itu.

Di perbatasan negara Jerman seorang pemuda 32 tahun bernama Karl Drais menemukan pengganti kuda untuk sarana transportasi pada masa itu, yaitu sebuah alat sederhana beroda dua diberi nama draisine. Draisine dibuat dari bahan kayu dan belum memiliki pedal. Satu-satunya cara untuk mengendarai sepeda ini adalah dengan menjejakkan kaki ke tanah agar draisine mau meluncur.  Bentuknya bisa dilihat di website www.karl-drais.de.


Karl Drais memulai sejarah baru bepergian tanpa kuda ketika mengendarai sepedanya pada 12 Juni 1817 sepanjang 7,5 kilometer di jalanan Mannheim-Schwetzingen di Jerman.

Pierre Michaux dari Perancis pada tahun 1863 menambahkan engkol dan pedal di roda depan sehingga lahirlah velocipede, sepeda modern yang bisa dikendarai tanpa menjejakkan kaki di tanah. Michaux selanjutnya menjadi perintis produksi sepeda secara massal.


Hari Kedua: Uphill cycling dari Dorocanga                                                                             

            Istirahat tidak akan pernah cukup menghadapi trek hari kedua ini.  Sekitar pukul 07:00 kami meninggalkan Dorocanga mengikuti jalur dengan profil elevasi yang 100% menanjak. Pos 1 (52mdpl) cepat dicapai sebagai gerbang masuk ke padang savana Tambora.  Beberapa gerombolan kuda yang berlarian bebas sempat mengajak 3A+1B (Acep, Afghan, Azis, dan Bob) untuk bermain kejar-kejaran. Terlihat seperti koboi modern penunggang MTB sedang menggembala kuda liar.  Luar biasa!

            Jalur pendakian terus menanjak dan bertambah curam ketika mendekati Pos 2 (989mdpl). Kelompok terdepan bisa mencapai Pos 2 sekitar pukul 14:00 dan kelompok terakhir sekitar 18:00. Delapan peserta memutuskan menghentikan perjalanan di Pos 2 ini untuk menginap. 

            Peserta yang tersisa melanjutkan perjalanan ke Pos 3 (1800mdpl) dengan berjalan kaki agar mempercepat perjalanan sehingga diharapkan dapat mencapai Pos 3 sebelum matahari terbenam  Jalur semakin curam karena elevasi 800mdpl harus ditaklukkan dengan jarak 6km.  Trekking terasa berat, terutama setelah mengayuh pedal dua hari. Yang luar biasa, peserta yang start dari Pos 2 pukul 18:00 perlu waktu 6 jam untuk mencapai Pos 3 karena berjalan hanya diterangi cahaya senter. Baru tengah malam mereka mencapai Pos 3.


Hari Ketiga: Puncak Tambora!                                                                                                 

            Di Pos 3 sudah tersedia makan malam dan beberapa tenda untuk melepas penat. Hanya beberapa jam merebahkan diri, pukul 04:00 kami melanjutkan pendakian ke Kaldera Tambora yang berada di ketinggian 2851mdpl.  Salut untuk rekan-rekan yang masuk Pos 3 tengah malam, langsung bergabung ke Puncak Tambora. Trek dari Pos 3 ini sangat curam, hanya bisa dilewati dengan merayap, memanjat dan merangkak. Siluet puncak Tambora diterpa sinar hangat matahari terus memacu semangat untuk terus bergerak, bergerak, dan bergerak. 

            Akhirnya kami bisa mencapai bibir kaldera yang memiliki keliling 6km itu. Menikmati puncak tertinggi sekaligus memandang Laut Bali dan Laut Flores seolah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.  Gugusan Pulai Ngali dan Pulau Raki terlihat jelas dari bibir kaldera. Danau kaldera yang berwarna hijau terhampar nun jauh di sana. Awalnya, langit begitu bersih dan sempurna untuk para fotografer. Setelah matahari cukup tinggi, gumpalan awan mulai menyergap dan menenggelamkan kita dalam selimut abu-abu.

            Setelah puas, kami turun kembali ke Pos 3 dan Pos 2.  Persediaan air minum sudah sangat menipis pada perjalanan turun ini. Panitia lokal mencari tambahan air dari sejumlah penampungan tadah hujan di dekat Puncak Tambora. Logistik di Pos 2 juga tinggal mie instant. Beruntung, trek selanjutnya adalah turunan. Trek yang didaki selama 6-8 jam sehari sebelumnya, bisa dilalui cepat kurang dari 2 jam.  Sensasi offroad downhill di tengah savana menyingkirkan rasa haus dan lapar kami. Rekahan tanah yang terbelah menjadi obstacle yang harus diwaspadai. Beberapa teman terkena perangkap rekahan tanah ini hingga jatuh terguling-guling. Pos 1 cepat sekali dicapai, yang selanjutnya mengantar kami ke Pantai Calabai di mana terdapat guest house Pemda setempat untuk kami menginap.


Photos: See all pictures and videos from Tambora: Mountainbiking to the Top
Comments (2)
ollynoor
Mantap perjalanan gowesnya, trip SJN seri berikutnya kemana, om?
by ollynoor on Oct 03, 2012
mblitar
Wow!
by mblitar on Sep 12, 2012
Trip Info
by mblitar
April 12, 2012
Trip Location: Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Length: 48 miles
Duration: 30 days
Activity: Mountain biking
Trip viewed 656 times
Share This Trip
Flash map with photos for websites & blogs

Share by email & IM

non-flash map for websites & blogs

Take this trip with you
Add this trip to your favorites, which instantly appear in your EveryTrail for iPhone App "Saved" tab, and in "My Favorite Trips" on EveryTrail.com."
 Add to favorites

Export This Trip
Please login to download KML and GPX files
How To Get There
Get directions from: