Story:
Kebun Teh Cianten memiliki trek yang mirip dengan trek klasik RA Puncak. Namun memiliki banyak bonus. Melintas perkampungan yang masih asri, serta turunan curam yang merupakan aliran air menuju turbin PLTA Karacak. Sempat mencicipi jalur itu, saya kemarin mencoba ke sana lagi. Tidak menjajal trek offroadnya, akan tetapi menyusuri jalan raya dari Bogor ke kebun tehnya.
Kebun Teh Cianten memiliki trek yang mirip dengan trek klasik RA Puncak. Namun memiliki banyak bonus. Melintas perkampungan yang masih asri, serta turunan curam yang merupakan aliran air menuju turbin PLTA Karacak. Sempat mencicipi jalur itu, saya kemarin mencoba ke sana lagi. Tidak menjajal trek offroadnya, akan tetapi menyusuri jalan raya dari Bogor ke kebun tehnya.
Bertiga dengan Fredy dan Nengah Tamat kami berangkat dari titik awal Botani Square. Sabtu pagi lalu lintas di seputaran Kebun Raya Bogor sudah ramai. Sampai Jembatan Merah belum bisa leluasa mengayuh pedal. Selepas itu baru bisa menikmati kayuhan.
Menjelang Dramaga terjadi kemacetan akibat jalanan sempit sementara volume kendaraan dan sopir angkot yang tidak disiplin. Alhasil terjebak cukup lama di sini.
Selepas Dramaga kemacetan kembali terjadi di Pasar Lama, beberapa puluh meter sebelum belokan menuju PLTA Karacak.
Nah, selepas pertigaan ini jalan cenderung sepi meski masih ada angkot. Jalanan mulai menanjak, aspal masih mulus, dan kiri-kanan rumah berselang-seling dengan sawah. Sempat berhenti beberapa kali karena Fredy tertinggal. Kasihan jika tersesat karena beberapa pertigaan kami lewati.
Selepas PLTA Karcak, kami berhenti melihat kesibukan beberapa orang di pinggir jalan yang menarik perhatian kami. Ternyata mereka sedang memisahkan benang dan karet dari ban kendaraan. Sungguh kreatif mereka. Karet dan benang itu untuk memasok industri sepatu. Karet digunakan sebagai sol sedangkan benang untuk menjahit komponen-komponen sepatu.
Jalanan masih mulus, namun bopeng di sana-sini mulai terlihat. Bahkan di daerah Purasari sudah terkelupas aspalnya. Namun pemandangan mulai memikat hati. Deretan pralon putih di sebuah lereng gundul mengundang perhatian. Ternyata tanaman buah naga yang sedang mulai dibudidayakan.
Kelak-kelok menanjak mulai menemani kami. Kiri kanan kami silih berganti dari alang-alang, tanah gersang, pohon cengkeh dengan aromanya yang khas, pohon pinus yang menandakan kami sudah masuk ke Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sampai akhirnya sampai di kebun teh.
Begitu melihat bangunan warung Mang Ujang kami girang bukan kepalang. Soalnya sudah lewat jam makan siang. Berharap masih ada sisa-sisa makanan, ternyata menu hari itu masih lengkap. "Hari ini tidak ada yang main offroad," kata Mang Ujang.
Mang Ujang seperti Mang Ade di jalur Puncak. Menjadi tempat bongkar sepeda dan sarapan sebelum melahap trek Cianten. Namun kali ini bagi kami menjadi titik akhir perjalanan. Sebuah perjalanan yang menguras tenaga, terlebih di beberapa kilometer sebelum warung jalanan rusak parah. Sudah menanjak, batu-batu penyangga aspal yang sudah hilang entah ke mana bertebaran.
Ban sepeda saya yang sudah gundul sering kehilangan daya cengkeram dan selip, melontarkan beberapa kerikil.
Setelah makan siang dan istirahat kami menjajal masuk kebun teh mengikuti jalur offroad. Namun begitu ketemu dengan jalan aspal kami turun kembali. Jika naik menguras tenaga, turun menguras energi untuk konsentrasi menjaga keseimbangan agar laju sepeda tidak oleng.
Turun dengan kecepatan tinggi di atas batu-batu lepas dan berkelak-kelok memang memberikan sensasi tersendiri. Efeknya baru terasa di pagi harinya: tangan terasa pegal.
Tips:
- ban cukup tekananannya
- ban cukup tekananannya
- fisik harus fit
Tags:
kgc, nanjak, cianten, kebun teh
kgc, nanjak, cianten, kebun teh
Comments (1)
